My Space

Perjalanan mengukir arti hadir kita. Berbekal pendengaran, penglihatan dan hati, mari kita belajar untuk bersyukur. Seperti kisah sebutir embun yang hadir menyejukkan semesta

.

.

Senja: Kupetik Kisahmu disini

Senin, 21 Oktober 2013



google imege

Senja yang tenang, aku datang menjumpaimu. Mendekat dengan langkah tertatih untuk menyapa kilau jinggamu. Disini… diantara kepakan sayap-sayap sparrow yang mungil kutengadahkan wajah dengan mata terpejam, merasakan hembusan angin barat yang basah beraroma tanah. Anginmu, telah sampai pada musim yang dirindu, musim yang selalu menjamah hati kita, melukis harap dan cemas menjadi satu. Di sinilah engkau berlabuh wahai senjaku. Gazibu, dibalik hingar bingar lalulintas, kepadatan bangunan, dan diantara keramaian pelancong. Ada berkubik cerita yang tak terkisahkan, diantaranya akan kubacakan padamu kisah tentang dia… 


Namanya Icha, gadis manis berusia 10 tahun. Wajahnya tertunduk saat mendekatiku, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia memberiku sebuah amplop putih yang tampak lusuh. Kutatap wajah itu, yang separuhnya tertutup helai rambut. Kemudian ia berlalu untuk melakukan hal yang sama pada pengunjung senja  lainnya di ruang terbuka ala gladiator ini. Aku menggenggam erat amplop bertuliskan sebaris kalimat permohonan dan do'a dengan beberapa ejaan kata di dalamnya yang tampak keliru. 

Icha berdiri agak menjauh dan menunggu dengan penuh harap... mungkin diantara kami ada yang tergerak memasukkan beberapa rupiah ke dalamnya. Ia mengambil kembali amplop-amplop yang telah disebarnya dan sampai pada giliranku. Aku memperhatikannya untuk yang kesekian kalinya kemudian mengajaknya duduk disampingku. Diam, kami hanya diam. Beberapa saat hanya deru mesin dan decitan roda yang berbicara diantara kami. 


“Namamu?” aku meliriknya sempurna, karena benar-benar membuatnya melihat mataku dari dekat. “Icha.” Aku tersenyum, merasa terberkati karena dapat mendengar suara merdunya.

“bisa nyanyi?” Icha mengangguk malu malu

“icha nyanyiin satpol PP ya kak?” kali ini aku yang mengangguk, senang. Ia mengeluarkan kecrek dari tutup botol yang dipipihkan dan dirangkai serta dipaku pada sebuah kayu. Suaranya mulai mengalun tenang kemudian terdengar dalam dan serak seiring makna syair yang dibawakannya. Lagu itu berakhir dengan tatapan kosong dimatanya. Aku tertegun.

Saat kutanya apakah sekolah atau tidak, icha mengaku ia duduk dibangku sekolah dasar kelas 3. “icha sekolah di jl. Suci kak. Jalan kaki dari rumah, rumah icha di jl. Pahlawan.”

“masih punya orangtua?” tanyaku lebih lanjut.

“ibu sama bapa ada. Ibu kerja jadi tukang pijit, bapa nyari rongsok. Kami semua kerja. Icha ngamen sama sebar amplop di kafe kafe, sama temen-temen anak jalanan dari Dago. Kami nyari uang buat makan, beli buku dan jajan.”

Aku tak sedikitpun melepaskan tatapan dari sosoknya, cara bicaranya yang merajuk, dan caranya menatap langit senja di depan kami. 


Aku memberikan kembali amplop itu padanya. Memberinya hanya selembar rupiah mungkin tidak akan berarti apapun untuknya, namun memberikannya harapan mungkin setidaknya cara lain untuk memberi. Aku memberitahunya bahwa ejaan kalimat yang ditulis pada amplopnya tadi ada yang keliru dan menyarankannya untuk membetulkannya. Kami menatap senja bersama dan membaca pesan langit pada garis cahaya jingga yang terlukis diufuk barat itu.

“pelukis senja itu, Dia telah melukis hidup kita dengan sempurna. maka menjadilah ciptaanNya yang pandai bersyukur….

 ###
Icha dan bocah-bocah jalanan lainnya, adalah contoh salah satu dimensi kehidupan anak-anak bangsa ini. Mental yang tumbuh dan berkembang pada diri mereka sungguh memprihatinkan. Ada banyak pilihan dalam hidup ini, mungkin... apakah ada pilihan bagi mereka? 
Mari sejenak menatap potret kehidupan anak-anak tanpa dosa ini dan bertanyalah pada diri, panggilan apa yang bergema dalam nurani kita... 
google image

8 komentar:

Topics mengatakan...

realita yang ada di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi...
realitas yang ada di negeri yang katanya tongkat dan batupun jadi tanaman
ironi...

Niken Kusumowardhani mengatakan...

Blog baru ya Liyan... Bunda baru tau nih.

Potret masyarakat yang amat membuat miris. Memerlukan banyak pembenahan untuk bisa memperbaiki keadaan.

Miftahgeek.com mengatakan...

Entah itu foto icha yang dimaksud real atau hanya ilustrasi, tapi nampaknya terlalu 'rapih' dandanannya untuk menjadi sekadar 'peminta' --a

Zeal*Liyanfury mengatakan...

@Sahabat Miftah: Salam kenal, terimakasih atas apresiasinya. Benar, saya perhatikan icha berbeda dg Anjal (anak jalanan lainnya), bukan hanya pakaiannya yg rapi, namun juga memiliki sopan santun. Daya tarik lainnya adalah ia memiliki semangat sekolah meskipun dalam kemampuan kognitifnya tampak belum berkembang optimal sesuai usianya, sederhananya dpt dilihat dari ejaan tulisannya. Ia termasuk Anjal yg beruntung, masih memiliki orangtua dan bersekolah. Tidak semua Anjal memiliki nasib sebaik ini. Khususnya memiliki semangat belajar… ini hanyalah kesimpulan dini dari observasi yg sy lakukan terhadap pendidikan anak-anak di bawah garis kemiskinan yg pd umumnya sangat buruk.
Sekali lagi terimakasih sahabat... :)

Unknown mengatakan...

apalah sebuah judul, aku masuk dan terhanyut dalam senja dan kisah yg tak asing melayun untuk di dijadikan sayatan hati ...

salam kenal

Wahidiyah Jakarta mengatakan...

Perjalanan bisa memahamkan arti hadir kita, pun pada akhirnya waktu jua yang akan menguji, dan saat itu aku tetap berharap engkau adalah notasi rinduku

Zeal*Liyanfury mengatakan...

@sahabat Jay Buana: Salam... :))

@sahabat Wahidiyyah: that's My Space ^_^
thank's atas silaturrahminya, salam kenal :)

Aunillah mengatakan...

Saya gambar dan artikelnya bagaikan hidup menceritakan sejarah..

Salam dari Pulau Dollar

Posting Komentar

Zeal*liyanfury. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Post

 
yiruma my memory

Music player by mp3juices