Nun di negeri yang jauh, jauh karena belum didekatkan, belum terwujud dalam kenyataan..namun tak ingin hanya hadir dalam angan. Negeri impian.. Baldah thoyyibah warobbun Ghofur.. Dikala iman ummat adalah prioritas. Tersebutlah kisah Satu keluarga yg tengah berjalan tertatih menapaki mimpi untuk sampai ke negeri tersebut.
Halal dan Thoyib disirami airmata seorang istri dan kelima wajah mungil yang polos.. keringat seorang ayah pun menjadi saksi, tak jarang air mata meleleh pula di wajahnya yang penuh beban harapan.
Sederet pesanan telah siap dihantarkan. Produk halal dan Thoyib, daging ayam halal, sayur segar, sembako dalam negeri yang telah bersertifikat halal meluncur ke rumah rumah dan keluarga yang berkomitmen untuk dapat menjalankan perintahNya.. qullu wasrobu.. halalan thoyyibah..
Dibalik dapur mereka mengepul asap, menebar aroma masakan hingga terhidang di meja makan. Setiap suapan ada rasa tenang... Rasa syukur.. atas rezeki halal dan thoyyib yang diberikan. Tertuang dalam doa agar keberkahan dapat diraih dalam setiap suapan.. . Menjadi tenaga, kekuatan dan semangat dalam penghambaan kepadaNya...
Cerita bergulir, senja telah berlalu, langit telah berubah warna dari merah saga perlahan merajut gelap. Sang kurir pun pulang. Keluarga kecil nya tengah menunggu. Suara raungan motor yg khas sampai di halaman rumah. Pintunya langsung terbuka, Tangan, kaki, pinggang dan bahunya disambut hangat ke lima wajah mungil yang polos. Bahkan kakak yang tertua masih bergelayut manja.
"Abi bawa apa.. aku lapar.. mau jajan.. boleeeh..?" Setiap rengekan dengan wajah memelas membuat hatinya luluh. Istrinya memandang penuh harap pula. Menunggu kompor menyala untuk meredam rengekan anak anak mereka.
"Alhamdulillah, kita makan aja ga usah jajan ya... "
Tangisan mulai melengking dari si kecil. "Mau makan sama ayam.. " yang besar merogoh kantong keresek di tangan ayah nya. Dan berakhir kecewa.. sang ibu mengelus kepala anaknya. "Alhamdulillah, kita harus bersyukur dengan rezeki yang Allah berikan, kalaupun itu bukan yang kita inginkan, jangan mengeluh.. di luar sana masih banyak keluarga yang tidur dengan perut kosong.."
Dikeluarkannya isi kantong kresek dan mulai menyortir sisa sayuran beberapa hari terakhir yang masih layak untuk diolah.. si bungsu yarg baru belajar bicara ikut nimbrung "ningin.. ningin.. mauu... ". Ada sebungkus tahu dingin dari kulkas kios sisa bbrp hari lalu.. ada Beerapa butir telur, bumbu, minyak goreng curah dan sekantung kecil terigu. Semua untuk bisa sampai esok malam.. sang ayah memberi isyarat bahwa itu dicatat sbgi bon hutang, kecuali sisa sayuran. Sang istri mengulum senyum. Bahkan gaji sang ayah tak Bisa menutup hutang kebutuhan dapur mereka..
***
*Bersambung..




